Melayang dalam rindu..
Terbang dalam mimpi..
Hangat berirama dengan malam syahdu.
Hanya satu yang kupinta dalam doa,
agar Tuhan indahkan mimpimu malam ini.
Bidadariku.
-dago.12des2011.23:35-
photo by Shinta Eka
last night you made me feel this way,
“i am longing to you.”
this is all i have to say,
now …
Jakarta – Bandung Pulang Pergi adalah nyanyian rindu. Nyanyian rindu pada kota itu setiap aku menetap dikota yang ini. Rindu Cempaka Putih dan masakan Ibu. Rindu pelukan hangat orang tua yang selalu dengan senyum mereka bertanya kabarku dikota tetangga. Rindu rumah tempat untuk tak melakukan apa-apa. Rindu bahwa akan selalu ada makanan tersaji di meja makan. Rindu Mocci si persia pemalas yang selalu saja tampak menggemaskan. Rindu Ibukota dan rangkaian lampu malam jalan protokol. Rindu sesak udara Ibukota yang menitahkan kenangan bahwa ada Bandung di sebelah sana dengan malam dinginnya. Rindu gerahnya cuaca Ibukota sekalipun baru saja selesai mandi. Rindu melihat betapa sibuknya manusia – manusia Jakarta lalu heran entah apa yang sebenarnya mereka cari dikota ini. Rindu keluar malam menikmati Sudirman bersama sahabat yang dalam mimpi kusayang. Rindu lari pagi di Sudirman Car-Free-Day yang penuh dengan manusia Ibukota yang berlari atau sekedar berjalan, beda dengan kota tetangga yang malah penuh dengan gerobak jualan. Rindu metromini dengan segala kemampuan manuvernya yang menakjubkan. Rindu La Piazza di malam Minggu, bir dan panggung musiknya yang melantunkan nada-nada klasik rok tahun 90-an. Rindu sahabat-sahabat yang bertanya, “woi lagi di Jakarta gak lu? Jalan yuk.” Rindu bersenda gurau dengan para sahabat menemani Ibukota menyambut fajar Ibukota. Rindu kereta listrik yang mengingatkanku pada sosok perempuan Amarapura yang masih kucinta. Lalu, setelah beberapa hari di Ibukota aku rindu Paris Van Java.
Rindu pada jembatan tol Padalarang yang, entah mengapa, selalu kurasa sebagai batas kasat mata antara Ibukota dan Paris Van Java. Rindu gerbang tol Pasteur yang selalu mampet setiap meladeni cecunguk Ibukota yang hendak turut memacetkan kota yang sudah macet ini. Rindu berjalan kaki menyusuri Dago tengah malam ditemani rokok dan sebotol bir dingin. Rindu Jalan Mangga tempat aku bisa berbagi cerita lalu menuangkannya dalam berlembar-lembar naskah cerita. Rindu teduhnya Bandung kala sore, novel fiksi fantasi dan segelas kopi hitam kental. Rindu berkeliling mencari tempat makan baru yang bertebaran hingga sudut kota. Rindu menjadi anak kos dan keterpaksaan mencari makan malam sendirian didinginnya malam. Rindu angkutan kota yang tampaknya punya motto “takkan maju sebelum penuh.” Rindu untuk sekedar bercakap dalam bahasa Sunda. Rindu gadis – gadis manis Pasundan yang bertebaran hingga pelosok kota, tak seperti gadis – gadis Ibukota yang hanya terlihat manis dibeberapa pusat keramaian kota. Rindu dinginnya kota yang terasa semakin menusuk tulang setiap aku lupa bahwa tak ada siapapun untuk menghangatkan malam. Rindu Jatinangor kilometer dua puluh satu dan segala kenangan manis yang lahir disitu. Rindu lelah dan sesaknya berdiri di dalam bis Damri. Rindu menjadi pelajar, segala kesibukannya mengerjakan tugas dan caci-maki kesal pada dosen yang menyebalkan. Rindu Ngeumong, choco-caliente hangat dan sahabat-sahabat lama. Rindu Pondok Djogja yang selalu melahirkan kembali sosok si gadis Amarapura. Jadi, bila kalian bertanya apa itu Jakarta – Bandung Pulang Pergi? Maka akan kujawab, Jakarta – Bandung Pulang Pergi adalah nyanyian rindu.
Dago, 11 Oktober 2011, 17:47PM